Jumat, 10 Juli 2009

KANKER KULIT

Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari.Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, namun demikian kanker kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal bagi penderita.
Penyakit Kanker Kulit adalah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ada tiga jenis kanker kulit yang umumnya sering diderita manusia, diantaranya adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM).
Kanker Kulit Ganas

  • Karsinoma Sel Basal (KSB)

  • Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang paling banyak diderita. Kanker jenis ini tidak mengalami penyebaran (metastasis) kebagian tubuh lainnya, tetapi sel kanker dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit sekitarnya. Warna kulit yang terang dan sering terkena pijaran cahaya matahari keduanya diduga sebagai penyebab Karsinoma Sel Basal. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab jenis kanker ini adalah system imun tubuh yang lemah (baik dampak penyakit lain atau pengobatan), luka bakar, sinar X-ray.

    1. Tanda dan Gejala
    Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman, kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh.

    2. Diagnosa Jenis kanker
    Metode tunggal untuk memastikan penyakit kanker sel basal yaitu Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan histopatologis dengan mengambil sample bagian kulit yang di anggap sebagai jaringan kanker (biopsy) untuk diteliti dibawah mikroskop.

    3. Therapy dan Pengobatan
    Apabila diagnosa telah ditegakkan secara jelas bahwa penderita mengalami kanker kulit berjenis sel basal, maka tindakan yang dilakukan umumnya adalah pembedahan atau pengangkatan jaringan kulit (kanker) secara komplit, atau dapat pula dengan tindakan penyinaran. Metode lainnya yang juga kerap dilakukan adalah bedah beku, bedah listrik, laser, fotodinamik serta dengan obat-obatan baik yang dioleskan maupun disuntikkan (kemoterapi).

  • Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)

  • Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang lebih banyak diderita pria terutama kaum lanjut usia (lansia). Ini adalah jenis kanker kulit dimana terjadi keganasan sel keratinosit epidermis, merupakan kanker kulit ke dua tersering. Penyakit kanker kulit KSS ini dapat menyebar kebagian tubuh yang lain, umumnya diderita mereka yang berada diwilayah tropik.

    Seperti halnya penyakit KSB, kanker kulit jenis ini juga diduga akibat sinar matahari (dominannya), Imun tubuh yang lemah, virus, bahan-bahan kimia dan jaringan parut juga dapat menimbulkan penyekit ini. Adapun tanda dan gejalanya ialah mempunyai kelainan berupa benjolan-benjolan atau luka yang tidak sembuh-sembuh. Diagnosa ditegakkan dengan metode yang sama pada KSB, begitupun tindakan therapy dan pengobatan cenderung sama dengan kanker sel basal.

  • Melanoma Maligna (MM)

  • Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan. Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.

    1. Tanda dan Gejala
    Informasi ini sangat penting sekali bagi meraka yang memiliki tahi lalat yang kemudian mengalami perubahan baik warna, ukuran maupun bentuknya, Tahi lalat terkadang terasa gatal dan bila digaruk mengeluarkan darah. Sel kanker ini tumbuh dari melanosit, yaitu sel kulit yang berfungsi menghasilkan zat warna melanin.

    Kanker ini dicirikan dengan ABCD, yaitu A= Asimetrik, bentuknya tak beraturan. B= Border atau pinggirannya juga tidak rata. C= Color atau warnanya yang bervariasi dari satu area ke area lainnya. Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus tertentu ditemukan berwarna putih, merah dan biru. D= Diameternya lebih besar dari 6 mm.

    2. Diagnosa Melanoma Maligna
    Penegakan diagnosa pada kasus penyakit kanker kulit jenis ini sama halnya dengan kedua jenis kanker kulit di atas (KSB dan KSS), yaitu dilakukannya tindakan biopsy untuk pemeriksaan dibawah mikroskop.

    3. Therapy dan Pengobatan
    Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa. Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker jenis ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya. Jika sel kanker ditemukan menyebar ke kelenjar limfa, maka mau tidak mau kelenjarnya juga diangkat.

    Kamis, 18 Juni 2009

    Anthrax

    Anthrax is the disease caused by the bacterium Bacillus anthracis, which lives in soil. The bacterial cell lives as a hardy spore to survive harsh conditions. The spores germinate into thriving colonies of bacteria once inside an animal or person. Anthrax usually affects livestock far more than humans, but—as we know from the 2001 anthrax attacks in the United States—anthrax is feared as a modern biological weapon.
    Anthrax occurs in three forms:

    * Cutaneous (affecting the skin)
    * Inhalational (in the lungs)
    * Gastrointestinal (in the digestive tract)

    Cutaneous Anthrax

    Cutaneous anthrax is the most common form of the disease. People with cuts or open sores can get cutaneous anthrax if they come in direct contact with the bacteria or its spores, usually through contaminated animal products. The skin will redden and swell, much like an insect bite, and then develop a painless blackened lesion or ulcer that may form a brown or black scab, which is actually dead tissue. Cutaneous anthrax responds well to antibiotics but may spread throughout the body if untreated. People who work with certain animals or animal carcasses are at risk of getting this form of the disease. Cutaneous anthrax is rare in the United States. According to the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), the United States sees only one to two cases per year.
    Inhalational Anthrax

    When a person inhales the spores of B. anthracis, they germinate and the bacteria infect the lungs, spreading to the lymph nodes in the chest. As the bacteria grow, they produce two kinds of deadly toxins.

    Symptoms usually appear 1 to 7 days after exposure, but they may first appear more than a month later. Fever, nausea, vomiting, aches, and fatigue are among the early symptoms of inhalational anthrax; it progresses to labored breathing, shock, and often death.

    Historically, the mortality rate for naturally occurring inhalational anthrax has been 75 percent, even with appropriate treatment. But inhalational anthrax is rare. In the 2001 anthrax attacks, 11 people were infected with inhalational anthrax and 6 survived. Prior to 2001, the last known U.S. case was in 1976, when a California craftsman died after getting the infection from imported yarn contaminated with anthrax spores.
    Gastrointestinal Anthrax

    People can get gastrointestinal anthrax from eating meat contaminated with anthrax bacteria or their spores. Symptoms are stomach pain, loss of appetite, diarrhea, and fever. Antibiotic treatment can cure this form of anthrax, but left untreated, it may kill half of those who get it.

    Gastrointestinal anthrax occurs naturally in warm and tropical regions of Asia, Africa, and the Middle East. There have been no confirmed cases of gastrointestinal anthrax in the United States, although a Minnesota farm family may have experienced symptoms of the disease in 2000 after eating meat from a steer that had anthrax.

    Selasa, 02 Juni 2009

    OPERASI ALJABAR

    Operasi aljabar yang meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dapat diterapkan pada suatu fungsi. Sebagai contoh, misalkan diberikan f(x) = x + 1 dan g(x) = x - 1. Apa hasil dari (f + g)(x), (f - g)(x), (f . g)(x) dan (f / g)(x) ?

    Nah… dengan Maple Anda dapat melihat hasil operasi aljabar fungsi tersebut.

    Berikut ini beberapa perintah untuk mencari hasil operasi aljabar fungsi pada contoh di atas.

    > f := x -> x + 1;
    > g := x -> x - 1;

    Perintah berikut ini untuk mencari hasil dari (f + g)(x) dengan Maple yang akan menghasilkan 2x.

    > (f + g)(x);

    Perintah berikut ini untuk mencari hasil dari (f - g)(x) dengan Maple yang akan menghasilkan 2.

    > (f - g)(x);

    Perintah berikut ini untuk mencari hasil dari (f * g)(x) dengan Maple yang akan menghasilkan x^2 - 1.

    > (f * g)(x);
    > expand(%);

    Catatan: perintah expand(%) digunakan untuk menjabarkan hasil operasi perintah sebelumnya.

    Perintah berikut ini untuk mencari hasil dari (f / g)(x) dengan Maple yang akan menghasilkan (x + 1)/(x - 1)

    > (f / g)(x);

    Bagaimana dengan evaluasi fungsi pada fungsi hasil operasi aljabar, misalnya mencari nilai (f + g)(3.5) ? Untuk mencari hasil evaluasi fungsi dari fungsi hasil operasi aljabar, cukup mudah perintahnya, yaitu

    > (f + g) (3.5);

    Selanjutnya bagaimana dengan menggambar grafik dari fungsi hasil operasi aljabar? Lagi-lagi caranya cukup mudah, yaitu tinggal gunakan plot() selesai. Contoh:

    > plot((f + g)(x), x=0..4);

    Sebagai latihan, coba Anda definisikan fungsi f(x) = 2x + 3 dan g(x) = x + 2. Selanjutnya carilah (f + g)(x) lalu gambarlah f(x), g(x) dan (f + g)(x) dalam satu bidang gambar. Coba simpulkan sifat grafik fungsi (f + g)(x) tersebut.

    Coelenterata

    Mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuhnya yang berfungsi seperti Usus pada hewan-hewan tingkat tinggi. Rongga itu disebut rongga Gastrovaskuler. Simetri tubuhnya Radial dan terdapat Tentakel disekitar mulutnya yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Tentakel vang dilengkapi sel Knidoblas yang mengandung racun sengat disebut Nematokis (ciri khas dari hewan berongga).
    Dinding tubuhnya terdiri dari 2 lapisan lembaga yaitu:
    1. Ektoderm Þ bagian luar
    2. Endoderm Þ bagian dalam

    Diantara dua lapisan tersebut terdapat lapisan tipis yang disebut Mesoglea. Karena dinding tubuhnya terdiri dari dua lapisan lembaga maka hewan itu disebut Þ Hewan Diploblastik

    Sebagian besar Coelenterata hidup di laut kecuali hydra sp. dan beberapa jenis lainnya. Hewan tersebut mempunyai dua fase bentuk tubuh yaitu fase Polip dan fase Medusa. Polip adalah fase saat hewan melekat pada suatu substrat (tidak dapat berpindah) sedangkan medusa adalah fase saat hewan dapat bergerak bebas.

    Kelas-kelas yang termasuk di dalam filum Coelenterata adalah:
    HYDROZOA Contoh jenis dari kelas tersebut adalah Hydra, yang hidup di dalam air tawar. Ujung tempat letaknya mulut disebut ujung Oral sedangkan yang melekat pada dasar
    disebut ujung Aboral. Cara reproduksi hewan disebut adalah dengan cara vegetatif maupun generatif. Contoh lain adalah Obelia.
    SCYPOZOA Sebagian besar hidup dalam bentuk medusa. Bentuk polip hanya pada tingkat larva.
    Contoh jenis dari kelas tersebut adalah Aurelia sp. (ubur-ubur kuping) yang sering terdampar di pantai-pantai.
    Larva disebut Þ Planula, kemudian menjadi polip yang disebut Skifistoma. Dari skifistoma terbentuk medusa yang disebut Efira.
    ANTHOZOA Tidak mempunyai bentuk sebagai medusa (sepanjang hidupnya Þ Polip).
    Contoh jenis dari kelas tersebut adalah anemon laut (Cribinopsis fernaldi). Mempunyai alat pernafasan sederhana disebut Þ Sifonoglifa.
    CTENOPHORA Satu-satunya Coelenterata yang tidak memiliki mematokis.

    PORIFERA

    Porifera adalah hewan air yang hidup di laut. Hidupnva selalu melekat pada substrat (sesil) dan tidak dapat berpindahtempat secara bebas.

    Ciri utama Þ memiliki iubang (Pori) yang banyak dan membentuk suatu Sistem Saluran. Air dan makanan yang larutdidalamnya diarnbil oleh hewan tersebut masuk melalui lubang Ostium, kemudian masuk ke dalam rongga tubuh. Setelahmakanan diserap air yang berlebihan dikeluarkan melalui lubang yang di sebut Oskulum.

    Terdapat sel dengan bentuk khusus yang disebut Koanosit atau Sel Leher yang berfungsi untuk pencemaan makanan.Sel koanosit memiliki nukleus, vakuola dan flagel. Karena pencernaan berlangsung di dalam sel maka Þ pencernaan Intrasel.

    Mempunyai Eksoskeleton (Rangka Luar): terdiri dari serabut-serabut lentur yang disebut Spongin dan terdiri dari duriyang disebut Spikula.

    Pembiakan dengan cara generatif (kawin), hewan ini mempunyai daya Regenerasi yang tinggi.



    PORIFERA DIBEDAKAN MENJADI 3 GOLONGAN

    1. CALCAREA Þ Sycon dan Cluthrina
    2. HEXACTINELLIDA Þ Pheronima
    3. DEMOSPONGIA Þ Euspongila, Spongila (bertubuh lunak) Þ digunakan orang untuk alat pembersih kaca dan lainnya.

    TIPE SISTEM PEMBULUH AIR YANG DIMILIKI OLEH PORIFERA

    1. Ascon
    2. Sycon
    3. Rhagon (Leucon)


    Gambar Struktur Tubuh Porifera

    Platyhelminthes

    Disebut Þ Cacing Pipih (Flat Worm) dengan ciri antara lain:

    • Tubuh simetri bilateral
    • Belum memiliki sistem peredaran darah
    • Belum memiliki anus
    • Belum memiliki rongga badan Þ termasuk
    kelompok Triploblastik Aselomata
    • Memiliki basil isap (sucker)

    Sistem saraf terdiri dari ganglion otak dan saraf-saraf tepi Saraf Tangga Tali. Beberapa ada yang mempunyai alat keseimbangan Statotista.



    TERDIRI DARI TIGA KELAS :

    1

    TURBELARIA (Cacing Berambut Getar)
    Satu-satunya kelas yang hidup bebas (non-parasit), contohnya adalah Planaria yang mempunyai sistem ekskresi dari sel-sel api (Flame Cell). Bersifat Hermafradit dan berdaya regenerasi cepat.

    2 TREMATODA (Cacing Isap)
    Jenis-jenis kelas ini adalah :
    1. Fasciola hepatica (cacing hati ternak), bersifat hetmafrodit.
      Siklus hidupnya adalah : Telur Þ Larva Mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea Þ Sporokista Þ berkembang menjadi Larva (II) : Redia Þ Larva (III) : Serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh keong Þ Kista yang menempel pada tetumbuhan air (terutama selada air Þ Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) Þ masuk ke tubuh dan menjadi Cacing dewasa menyebabkan Fascioliasis.
    2. Clonorchis sinensis / Opistorchis sinensis (cacing hati manusia)
      Siklus hidupnya adalah: Telur Þ Larva Mirasidium Þ Sporokista Þ Larva (II) : Redia Þ Larva (III) : Serkaria Þ Larva(IV) : Metaserkaria, masuk ke dalam tubuh Ikan kemudian termakan oleh Orang Cacing dewasa, menyebabkan Clonorchiasis.
    3. Schistosoma
      Contohnya adalah Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium dan Schistosoma mansoni. hidup dipembuluh darah dan merupakan parasit darah. Memiliki hospes perantara Siput. Menyebabkan Schistosomiasis.
    4. Paragonimus westermani (cacing paru)
      Cacing yang menjadi parasit dalam paru-paru manusia. Sebagai hospes perantara ialah ketam (Eriocheirsinensis) dan tetumbuhan air. Menyebabkan Paragonimiasis.
    5. Fasciolopsis buski
      Cacing yang menjadi parasit dalam tubuh manusia. Hidup di dalam usus halus. Hospes perantaranya adalah tetumbuhan air. Menyebabkan Fasciolopsiasis.

    CESTODA (Cacing Pita)

    Tubuhnya terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang masing-masing disebut Proglottid.

    Kepala disebut Skoleks dan memiliki alat isap (Sucker) yang memiliki kait (Rostelum) terbuat dari kitin. Pembentukan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut Strobilasi.

    Contoh :

    Taenia solium Þ Cacing pita manusia
    Menyebabkan Taeniasis solium. Pada skoleknya terdapat kait-kait. Proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya. Memiliki hospes perantara Þ Babi.

    Siklus hidup :
    Proglottid Masak
    (terdapat dalam feses) bila tertelan oleh babi Þ Embrio Heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya Þ Larva Sistiserkus (dalam otot lurik babi) tertelan manusia Þ Cacing dewasa.

    Taenia saginata Þ Cacing pita manusia
    Menyebabkan Taeniasis saginata. Pada skoleknya tidak terdapat kait-kait. Memiliki hospes perantara Þ Sapi. Daur hidupnya sama dengan Taenia solium.

    Diphyllobothrium latum,
    Menyebabkan Diphyllobothriasis. Parasit pada manusia dengan hospes perantara berupa katak sawah
    (Rana cancrivora), ikan dan Cyclops.

    Echinococcus granulosus
    Cacing pita pada anjing.

    Himenolepis nana
    Cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan tikus. Tidak memiliki hospes perantara.

    PROTOZOA

    Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkanmaka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajariprotozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek.


    PROTOZOA DIBAGI MENJADI 4 KELAS Þ BERDASAR ALAT GERAK

    1 Rhizopoda (Sarcodina),
    alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu)
    • Amoeba proteus

    memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan
    vakuola kontraktil.
    • Entamoeba histolityca
    menyebabkan disentri amuba (bedakan dengan disentri basiler
    yang disebabkan Shigella dysentriae)
    • Entamoeba gingivalis
    menyebabkan pembusukan makanan di dalam mulut
    radang gusi (Gingivitis)
    • Foraminifera sp.
    fosilnya dapat dipergunakan sebagai petunjuk adanya minyak
    bumi. Tanah yang mengandung fosil fotaminifera disebut tanah globigerina.
    • Radiolaria sp.
    endapan tanah yang mengandung hewan tersebut digunakan
    untuk bahan penggosok.
    2

    Flagellata (Mastigophora),
    alat geraknya berupa nagel (bulu cambuk). Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

    • Golongan phytonagellata

    - Euglena viridis (makhluk hidup peralihah antara protozoa
    dengan ganggang)
    - Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara
    protozoa dengan ganggang)
    - Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan
    cahaya bila terkena rangsangan mekanik)

    • Golongan Zooflagellata, contohnya :

    - Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense.
    Menyebabkan penyakit tidur di Afrika dengan vektor (pembawa)
    Þ lalat Tsetse (Glossina sp.)
    Trypanosoma gambiense vektornya Glossina palpalis Þ tsetse
    sungai
    Trypanosoma rhodeslense vektornya Glossina morsitans
    Þ tsetse semak
    - Trypanosoma cruzl
    Þ penyakit chagas
    - Trypanosoma evansi
    Þ penyakit surra, pada hewan ternak
    (sapi).
    - Leishmaniadonovani
    Þ penyakit kalanzar
    - Trichomonas vaginalis
    Þ penyakit keputihan

    3

    Ciliata (Ciliophora),
    alat gerak berupa silia (rambut getar)

    • Paramaecium caudatum Þ disebut binatang sandal, yang memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator).

    Memiliki dua jenis inti Þ Makronukleus dan Mikronukleus (inti reproduktif). Cara reproduksi, aseksual Þ membelah diri, seksual Þ konyugasi.

    • Balantidium coli Þ menyebabkan penyakit diare.

    4 Sporozoa,
    adalah protozoa yang tidak memiliki alat gerak

    Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni.

    Marga yang berhubungan dengan kesehatan manusia Þ Toxopinsma dan Plasmodium.

    Jenis-jenisnya antara lain:
    - Plasmodiumfalciparum Þ malaria tropika Þ sporulasi tiap hari
    - Plasmodium vivax Þ malaria tertiana Þ sporulasi tiap hari ke-3
    (48 jam)
    - Plasmodium malariae Þ malaria knartana Þ sporulasi tiap hari
    ke-4 (72 jam)
    - Plasmodiumovale Þ malaria ovale

    Siklus hidup Plasmodium mengalami metagenesis terjadi di dalam tubuh manusia (reproduksi vegetatif Þ skizogoni) dan didalam tubuh nyamuk Anopheles sp. (reproduksi generatif Þ sporogoni). secara lengkap sebagai berikut:

    Sporozoit Þ
    Masuk Tubuh Di Dalam Hati (Ekstra Eritrositer) Þ Tropozoid Þ Merozoit (memakan eritrosit Þ Eritrositer) Þ Eritrosit Pecah (peristiwanya Þ Sporulasi) Þ Gametosit Þ Terhisap Nyamuk Þ Zygot Ookinet Þ Oosis Þ Sporozeit.

    Pemberantasan malaria dapat dilakulcan dengan cara :

    1. Menghindari gigitan nyamuk Anopheles sp.
    2. Mengendalikan populasi nyamuk Anopheles dengan insektisida dan larvasida
    3. Pengobatan penderita secara teratur dengan antimalaria Þ chloroquin, fansidar, dll