Dalam bidang biologi sel, organel ialah salah satu dari beberapa struktur dengan fungsi khusus yang terapung-apung dalam sitoplasma sel eukariot. Dahulu, organel dikenali melalui penggunaan mikroskop, serta juga melalui penggunaan fraksinasi sel.
Beberapa organel yang besar mungkin berasal dari bakteri endosimbion:
* kloroplas
* plastida lain, seperti leukoplas, amiloplas, etioplas, elaioplas, rodoplas, dan kromoplas.
* mitokondria.
Organel yang lain termasuk:
* akrosom
* sentriol
* silium/flagelum
* retikulum endoplasma
* glioksisom
* badan Golgi
* lisosom
* melanosom
* mitosom
* miofibril
* nukleolus
* nukleus
* parentesom
* peroksisom
* ribosom
* vakuola
* vesikula
Struktur-struktur lain yang berkaitan:
* sitosol
* sistem endomembran
* nukleosom
* mikrotubulus
* membran sel
Sumber : wikipedia.org
Jumat, 14 Agustus 2009
Kamis, 13 Agustus 2009
Cacing Parasit
Cacing parasit adalah cacing yang hidup sebagai parasit pada organisme lain, baik hewan atau tumbuhan. Mereka adalah organisme yang seperti cacing yang hidup dan makan pada tubuh yang ditumpangi serta menerima makanan dan perlindungan sementara menyerap nutrisi tubuh yang ditumpangi. Penyerapan ini menyebabkan kelemahan dan penyakit. Penyakit yang diakibatkan oleh cacing parasit biasanya disebut secara umum sebagai kecacingan.
Cacing parasit umumnya merupakan anggota Cestoda, Nematoda, dan Trematoda.
Beberapa cacing parasit hewan/manusia:
* Cacing gelang (Ascaris), penyebab askariasis
* Cacing hati (Fasciola), menghuni organ hati hewan ternak (terutama sapi dan babi)
* Cacing kremi (Enterobius), menghuni usus manusia dan menyebabkan gatal di sekitar dubur
* Cacing pipih darah, penyebab skistosomiasis (Schistosomia)
* Cacing pita (Taenia)
* Cacing tambang, penyebab ankilostomiasis (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
* Cacing penyebab filariasis, seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Loa loa, Mansonella streptocerca, Onchocerca volvulus, Dracunculus medinensis, Mansonella perstans, dan Mansonella ozzardi
Beberapa cacing parasit tumbuhan:
* cacing puru akar (Pratylenchus dan Heterodera)
* nematoda akar (P. coffeae, Radopholus similis, dan beberapa Meloidogyne.
Sumber : wikipedia.org
Cacing parasit umumnya merupakan anggota Cestoda, Nematoda, dan Trematoda.
Beberapa cacing parasit hewan/manusia:
* Cacing gelang (Ascaris), penyebab askariasis
* Cacing hati (Fasciola), menghuni organ hati hewan ternak (terutama sapi dan babi)
* Cacing kremi (Enterobius), menghuni usus manusia dan menyebabkan gatal di sekitar dubur
* Cacing pipih darah, penyebab skistosomiasis (Schistosomia)
* Cacing pita (Taenia)
* Cacing tambang, penyebab ankilostomiasis (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)
* Cacing penyebab filariasis, seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Loa loa, Mansonella streptocerca, Onchocerca volvulus, Dracunculus medinensis, Mansonella perstans, dan Mansonella ozzardi
Beberapa cacing parasit tumbuhan:
* cacing puru akar (Pratylenchus dan Heterodera)
* nematoda akar (P. coffeae, Radopholus similis, dan beberapa Meloidogyne.
Sumber : wikipedia.org
PLASMOLISIS
Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis.Jika sel tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis: tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Akhirnya cytorrhysis - runtuhnya seluruh dinding sel - dapat terjadi. Tidak ada mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan, juga mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik. Proses sama pada sel hewan disebut krenasi. Cairan di dalam sel hewan keluar karena peristiwa difusi.
Plasmolisis hanya terjadi pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam. Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau sel epidermal bawang yang memiliki pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas
Sumber : WIKIPEDIA.ORG
Rabu, 12 Agustus 2009
Sabtu, 25 Juli 2009
KELAHIRAN DAN KEMATIAN
Dipengaruhi oleh faktor pronatalitas dan antinatalitas
Faktor pronatalitas :
1. Perkawinan usia muda
2. Pola pikir banyak anak banyak rezeki
3. Besarnya angka kematian
4. Penilaian yang tinggi terhadap anak
Faktor antinatalitas :
1. Alat kontrasepsi — KB
2. Penundaan usia perkawinan
3. UU Perkawinan No. 1 tahun 1974
4. Peraturan pegawai negeri mengenai tunjangan anak
Angka kelahiran kasar (CBR)
Perbandingan antara jumlah penduduk pada pertengahan tahun tiap 1.000 penduduk
X 1.000
Â
CBR = Jumlah kelahiran
           Jumlah penduduk
Angka kelahiran umum (GFR)
•        GFR = Jumlah kelahiran 1 tahun     X 1.000
                          Jumlah wanita usia 15-44
•        GFR = Jumlah kelahiran 1 tahun     X 1.000
                       Jumlah wanita usia 15-49
Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur (Age Specific Fertility Rate/ASFR)
Angka yang menunjukan banyaknya kelahiran hidup dari 1000 wanita pada kelompok usia tertentu dalam waktu 1 tahun. Misalnya: Usia 15-19, 20-24, 25-29, dll. Biasanya interval 5 tahun
ASFR = Jumlah kelahiran dalam klompok umur tertentu    x 1.000
 Banyaknya wanita dalam kelompok umur tertentu
Â
Kematian (mortalitas)
Kematian dipengaruhi oleh promortalitas dan antimortalitas
Faktor promortalitas :
1. Fasilitas kesehatan belum memadai
2. Tingkat kesehatan belum memadai
3. Kekurangan gizi
4. Pencemaran lingkungan
5. Kecelakaan lalu lintas
6. Peperangan
7. Bencana alam dan wabah penyakit
8. Pembunuhan
Angka kematian kasar (CDR)
                       Jumlah kematian 1 tahun               X 1.000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
Â
Angka Kematian Menurut Kelompok Umur (ASDR)
Angka yang menunjukan banyaknya kelahiran hidup dari 1000 wanita pada kelompok usia tertentu dalam waktu 1 tahun. Misalnya:
1.
* Usia balita
* Usia lanjut
* Penduduk kelompok usia tertentu yang mempunyai resiko mati tinggi
Jumlah kematian penduduk usia tertentu dalam 1 tahun      X 1.000
Jumlah penduduk usia tertentu pada pertengahan tahun                                                  Â
Angka kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR)
Adalah perbandingan antara kematian bayi yang usianya kurang dari 1 tahun dan jumlah kelahiran hidup selama tahun tertentu.
IMR = Jumlah kematian bayi selama tahun tertentu  X 1.000
          Jumlah kelahitan hidup selama tahun tertentu
IMR < 10/1.000 Jiwa  ——–           Rendah
IMR = 35 – 75/1.000 Jiwa — Sedang
IMR = 75 – 125/1.000 jiwa – Tinggi
IMR > 125/1.000 jiwa ——–Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Sangat tinggi
Â
Faktor pronatalitas :
1. Perkawinan usia muda
2. Pola pikir banyak anak banyak rezeki
3. Besarnya angka kematian
4. Penilaian yang tinggi terhadap anak
Faktor antinatalitas :
1. Alat kontrasepsi — KB
2. Penundaan usia perkawinan
3. UU Perkawinan No. 1 tahun 1974
4. Peraturan pegawai negeri mengenai tunjangan anak
Angka kelahiran kasar (CBR)
Perbandingan antara jumlah penduduk pada pertengahan tahun tiap 1.000 penduduk
X 1.000
Â
CBR = Jumlah kelahiran
           Jumlah penduduk
Angka kelahiran umum (GFR)
•        GFR = Jumlah kelahiran 1 tahun     X 1.000
                          Jumlah wanita usia 15-44
•        GFR = Jumlah kelahiran 1 tahun     X 1.000
                       Jumlah wanita usia 15-49
Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur (Age Specific Fertility Rate/ASFR)
Angka yang menunjukan banyaknya kelahiran hidup dari 1000 wanita pada kelompok usia tertentu dalam waktu 1 tahun. Misalnya: Usia 15-19, 20-24, 25-29, dll. Biasanya interval 5 tahun
ASFR = Jumlah kelahiran dalam klompok umur tertentu    x 1.000
 Banyaknya wanita dalam kelompok umur tertentu
Â
Kematian (mortalitas)
Kematian dipengaruhi oleh promortalitas dan antimortalitas
Faktor promortalitas :
1. Fasilitas kesehatan belum memadai
2. Tingkat kesehatan belum memadai
3. Kekurangan gizi
4. Pencemaran lingkungan
5. Kecelakaan lalu lintas
6. Peperangan
7. Bencana alam dan wabah penyakit
8. Pembunuhan
Angka kematian kasar (CDR)
                       Jumlah kematian 1 tahun               X 1.000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
Â
Angka Kematian Menurut Kelompok Umur (ASDR)
Angka yang menunjukan banyaknya kelahiran hidup dari 1000 wanita pada kelompok usia tertentu dalam waktu 1 tahun. Misalnya:
1.
* Usia balita
* Usia lanjut
* Penduduk kelompok usia tertentu yang mempunyai resiko mati tinggi
Jumlah kematian penduduk usia tertentu dalam 1 tahun      X 1.000
Jumlah penduduk usia tertentu pada pertengahan tahun                                                  Â
Angka kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR)
Adalah perbandingan antara kematian bayi yang usianya kurang dari 1 tahun dan jumlah kelahiran hidup selama tahun tertentu.
IMR = Jumlah kematian bayi selama tahun tertentu  X 1.000
          Jumlah kelahitan hidup selama tahun tertentu
IMR < 10/1.000 Jiwa  ——–           Rendah
IMR = 35 – 75/1.000 Jiwa — Sedang
IMR = 75 – 125/1.000 jiwa – Tinggi
IMR > 125/1.000 jiwa ——–Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Sangat tinggi
Â
Jumat, 10 Juli 2009
KANKER KULIT
Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari.Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, namun demikian kanker kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal bagi penderita.
Penyakit Kanker Kulit adalah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ada tiga jenis kanker kulit yang umumnya sering diderita manusia, diantaranya adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM).

Kanker Kulit Ganas
Karsinoma Sel Basal (KSB)
Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang paling banyak diderita. Kanker jenis ini tidak mengalami penyebaran (metastasis) kebagian tubuh lainnya, tetapi sel kanker dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit sekitarnya. Warna kulit yang terang dan sering terkena pijaran cahaya matahari keduanya diduga sebagai penyebab Karsinoma Sel Basal. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab jenis kanker ini adalah system imun tubuh yang lemah (baik dampak penyakit lain atau pengobatan), luka bakar, sinar X-ray.
1. Tanda dan Gejala
Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman, kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh.
2. Diagnosa Jenis kanker
Metode tunggal untuk memastikan penyakit kanker sel basal yaitu Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan histopatologis dengan mengambil sample bagian kulit yang di anggap sebagai jaringan kanker (biopsy) untuk diteliti dibawah mikroskop.
3. Therapy dan Pengobatan
Apabila diagnosa telah ditegakkan secara jelas bahwa penderita mengalami kanker kulit berjenis sel basal, maka tindakan yang dilakukan umumnya adalah pembedahan atau pengangkatan jaringan kulit (kanker) secara komplit, atau dapat pula dengan tindakan penyinaran. Metode lainnya yang juga kerap dilakukan adalah bedah beku, bedah listrik, laser, fotodinamik serta dengan obat-obatan baik yang dioleskan maupun disuntikkan (kemoterapi).
Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)
Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang lebih banyak diderita pria terutama kaum lanjut usia (lansia). Ini adalah jenis kanker kulit dimana terjadi keganasan sel keratinosit epidermis, merupakan kanker kulit ke dua tersering. Penyakit kanker kulit KSS ini dapat menyebar kebagian tubuh yang lain, umumnya diderita mereka yang berada diwilayah tropik.
Seperti halnya penyakit KSB, kanker kulit jenis ini juga diduga akibat sinar matahari (dominannya), Imun tubuh yang lemah, virus, bahan-bahan kimia dan jaringan parut juga dapat menimbulkan penyekit ini. Adapun tanda dan gejalanya ialah mempunyai kelainan berupa benjolan-benjolan atau luka yang tidak sembuh-sembuh. Diagnosa ditegakkan dengan metode yang sama pada KSB, begitupun tindakan therapy dan pengobatan cenderung sama dengan kanker sel basal.
Melanoma Maligna (MM)
Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan. Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.
1. Tanda dan Gejala
Informasi ini sangat penting sekali bagi meraka yang memiliki tahi lalat yang kemudian mengalami perubahan baik warna, ukuran maupun bentuknya, Tahi lalat terkadang terasa gatal dan bila digaruk mengeluarkan darah. Sel kanker ini tumbuh dari melanosit, yaitu sel kulit yang berfungsi menghasilkan zat warna melanin.
Kanker ini dicirikan dengan ABCD, yaitu A= Asimetrik, bentuknya tak beraturan. B= Border atau pinggirannya juga tidak rata. C= Color atau warnanya yang bervariasi dari satu area ke area lainnya. Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus tertentu ditemukan berwarna putih, merah dan biru. D= Diameternya lebih besar dari 6 mm.
2. Diagnosa Melanoma Maligna
Penegakan diagnosa pada kasus penyakit kanker kulit jenis ini sama halnya dengan kedua jenis kanker kulit di atas (KSB dan KSS), yaitu dilakukannya tindakan biopsy untuk pemeriksaan dibawah mikroskop.
3. Therapy dan Pengobatan
Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa. Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker jenis ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya. Jika sel kanker ditemukan menyebar ke kelenjar limfa, maka mau tidak mau kelenjarnya juga diangkat.
Penyakit Kanker Kulit adalah suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ada tiga jenis kanker kulit yang umumnya sering diderita manusia, diantaranya adalah karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM).
Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang paling banyak diderita. Kanker jenis ini tidak mengalami penyebaran (metastasis) kebagian tubuh lainnya, tetapi sel kanker dapat berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit sekitarnya. Warna kulit yang terang dan sering terkena pijaran cahaya matahari keduanya diduga sebagai penyebab Karsinoma Sel Basal. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab jenis kanker ini adalah system imun tubuh yang lemah (baik dampak penyakit lain atau pengobatan), luka bakar, sinar X-ray.
1. Tanda dan Gejala
Bagian tubuh yang terserang kanker sel basal biasanya wajah, leher dan kulit kepala. Adapun tanda-tanda penyakit kanker berjenis ini adalah benjolan yang agak berkilat, kemerahan dengan pinggir meninggi yang berwarna agak kehitaman, kelainan seperti jaringan parut dan lecet/lika yang tidak sembuh-sembuh.
2. Diagnosa Jenis kanker
Metode tunggal untuk memastikan penyakit kanker sel basal yaitu Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan histopatologis dengan mengambil sample bagian kulit yang di anggap sebagai jaringan kanker (biopsy) untuk diteliti dibawah mikroskop.
3. Therapy dan Pengobatan
Apabila diagnosa telah ditegakkan secara jelas bahwa penderita mengalami kanker kulit berjenis sel basal, maka tindakan yang dilakukan umumnya adalah pembedahan atau pengangkatan jaringan kulit (kanker) secara komplit, atau dapat pula dengan tindakan penyinaran. Metode lainnya yang juga kerap dilakukan adalah bedah beku, bedah listrik, laser, fotodinamik serta dengan obat-obatan baik yang dioleskan maupun disuntikkan (kemoterapi).
Merupakan jenis penyakit kanker kulit yang lebih banyak diderita pria terutama kaum lanjut usia (lansia). Ini adalah jenis kanker kulit dimana terjadi keganasan sel keratinosit epidermis, merupakan kanker kulit ke dua tersering. Penyakit kanker kulit KSS ini dapat menyebar kebagian tubuh yang lain, umumnya diderita mereka yang berada diwilayah tropik.
Seperti halnya penyakit KSB, kanker kulit jenis ini juga diduga akibat sinar matahari (dominannya), Imun tubuh yang lemah, virus, bahan-bahan kimia dan jaringan parut juga dapat menimbulkan penyekit ini. Adapun tanda dan gejalanya ialah mempunyai kelainan berupa benjolan-benjolan atau luka yang tidak sembuh-sembuh. Diagnosa ditegakkan dengan metode yang sama pada KSB, begitupun tindakan therapy dan pengobatan cenderung sama dengan kanker sel basal.
Ini adalah jenis penyakit kanker kulit yang paling ganas dan berpotensi mematikan. Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun. Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang baru muncul.
1. Tanda dan Gejala
Informasi ini sangat penting sekali bagi meraka yang memiliki tahi lalat yang kemudian mengalami perubahan baik warna, ukuran maupun bentuknya, Tahi lalat terkadang terasa gatal dan bila digaruk mengeluarkan darah. Sel kanker ini tumbuh dari melanosit, yaitu sel kulit yang berfungsi menghasilkan zat warna melanin.
Kanker ini dicirikan dengan ABCD, yaitu A= Asimetrik, bentuknya tak beraturan. B= Border atau pinggirannya juga tidak rata. C= Color atau warnanya yang bervariasi dari satu area ke area lainnya. Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus tertentu ditemukan berwarna putih, merah dan biru. D= Diameternya lebih besar dari 6 mm.
2. Diagnosa Melanoma Maligna
Penegakan diagnosa pada kasus penyakit kanker kulit jenis ini sama halnya dengan kedua jenis kanker kulit di atas (KSB dan KSS), yaitu dilakukannya tindakan biopsy untuk pemeriksaan dibawah mikroskop.
3. Therapy dan Pengobatan
Melanoma Maligna merupakan jenis kanker kulit yang paling ganas, dapat menyebar kebagian tubuh lainnya seperti kelenjar limfa. Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker jenis ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi penyebaran maka dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya. Jika sel kanker ditemukan menyebar ke kelenjar limfa, maka mau tidak mau kelenjarnya juga diangkat.
Kamis, 18 Juni 2009
Anthrax
Anthrax is the disease caused by the bacterium Bacillus anthracis, which lives in soil. The bacterial cell lives as a hardy spore to survive harsh conditions. The spores germinate into thriving colonies of bacteria once inside an animal or person. Anthrax usually affects livestock far more than humans, but—as we know from the 2001 anthrax attacks in the United States—anthrax is feared as a modern biological weapon.
Anthrax occurs in three forms:
* Cutaneous (affecting the skin)
* Inhalational (in the lungs)
* Gastrointestinal (in the digestive tract)
Cutaneous Anthrax
Cutaneous anthrax is the most common form of the disease. People with cuts or open sores can get cutaneous anthrax if they come in direct contact with the bacteria or its spores, usually through contaminated animal products. The skin will redden and swell, much like an insect bite, and then develop a painless blackened lesion or ulcer that may form a brown or black scab, which is actually dead tissue. Cutaneous anthrax responds well to antibiotics but may spread throughout the body if untreated. People who work with certain animals or animal carcasses are at risk of getting this form of the disease. Cutaneous anthrax is rare in the United States. According to the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), the United States sees only one to two cases per year.
Inhalational Anthrax
When a person inhales the spores of B. anthracis, they germinate and the bacteria infect the lungs, spreading to the lymph nodes in the chest. As the bacteria grow, they produce two kinds of deadly toxins.
Symptoms usually appear 1 to 7 days after exposure, but they may first appear more than a month later. Fever, nausea, vomiting, aches, and fatigue are among the early symptoms of inhalational anthrax; it progresses to labored breathing, shock, and often death.
Historically, the mortality rate for naturally occurring inhalational anthrax has been 75 percent, even with appropriate treatment. But inhalational anthrax is rare. In the 2001 anthrax attacks, 11 people were infected with inhalational anthrax and 6 survived. Prior to 2001, the last known U.S. case was in 1976, when a California craftsman died after getting the infection from imported yarn contaminated with anthrax spores.
Gastrointestinal Anthrax
People can get gastrointestinal anthrax from eating meat contaminated with anthrax bacteria or their spores. Symptoms are stomach pain, loss of appetite, diarrhea, and fever. Antibiotic treatment can cure this form of anthrax, but left untreated, it may kill half of those who get it.
Gastrointestinal anthrax occurs naturally in warm and tropical regions of Asia, Africa, and the Middle East. There have been no confirmed cases of gastrointestinal anthrax in the United States, although a Minnesota farm family may have experienced symptoms of the disease in 2000 after eating meat from a steer that had anthrax.
Anthrax occurs in three forms:
* Cutaneous (affecting the skin)
* Inhalational (in the lungs)
* Gastrointestinal (in the digestive tract)
Cutaneous Anthrax
Cutaneous anthrax is the most common form of the disease. People with cuts or open sores can get cutaneous anthrax if they come in direct contact with the bacteria or its spores, usually through contaminated animal products. The skin will redden and swell, much like an insect bite, and then develop a painless blackened lesion or ulcer that may form a brown or black scab, which is actually dead tissue. Cutaneous anthrax responds well to antibiotics but may spread throughout the body if untreated. People who work with certain animals or animal carcasses are at risk of getting this form of the disease. Cutaneous anthrax is rare in the United States. According to the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), the United States sees only one to two cases per year.
Inhalational Anthrax
When a person inhales the spores of B. anthracis, they germinate and the bacteria infect the lungs, spreading to the lymph nodes in the chest. As the bacteria grow, they produce two kinds of deadly toxins.
Symptoms usually appear 1 to 7 days after exposure, but they may first appear more than a month later. Fever, nausea, vomiting, aches, and fatigue are among the early symptoms of inhalational anthrax; it progresses to labored breathing, shock, and often death.
Historically, the mortality rate for naturally occurring inhalational anthrax has been 75 percent, even with appropriate treatment. But inhalational anthrax is rare. In the 2001 anthrax attacks, 11 people were infected with inhalational anthrax and 6 survived. Prior to 2001, the last known U.S. case was in 1976, when a California craftsman died after getting the infection from imported yarn contaminated with anthrax spores.
Gastrointestinal Anthrax
People can get gastrointestinal anthrax from eating meat contaminated with anthrax bacteria or their spores. Symptoms are stomach pain, loss of appetite, diarrhea, and fever. Antibiotic treatment can cure this form of anthrax, but left untreated, it may kill half of those who get it.
Gastrointestinal anthrax occurs naturally in warm and tropical regions of Asia, Africa, and the Middle East. There have been no confirmed cases of gastrointestinal anthrax in the United States, although a Minnesota farm family may have experienced symptoms of the disease in 2000 after eating meat from a steer that had anthrax.
Langganan:
Postingan (Atom)