Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2015

Contoh Artikel tentang Guru dalam Pembentukan Karakter siswa V di SD Negeri X. Bag. V

P.       Daftar Pustaka

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta


Drs. Dharma Kesuma, M.Pd , Cepi Triatna, S. Pd., M. Pd, Dr. H. Johar Permana, MA. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung:Rosdakarya
Prof. Dr. Muchlas Samani dan Drs. Hariyanto, M. S. 2011.Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya
Thomas Lickona.2012. Mendidik untuk memebentuk Karakter.Jakarta:Bumi Aksara
Heri Gunawan. 2012.Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi. Bandung:Alfabeta.
Tim Dosen.2013. Pengelolaan Pendidikan Sekolah Dasar
Drs . Uman Suherman AS., M. Pd. Memahami Karakteristik Individu di publikasikan oleh Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan , Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia

Hernawan, dkk. (2010). Belajar dan Pembelajaran SD. Bandung: UPI PRESS

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian

Mukhtar dan Rusmini. (2007). Pengajaran Remedial. Jakarta: PT. Nimas Multima

Erman, Suherman. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. UPI Bandung: JICA

Ahmadi, A. dan Supriyono, W. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Asdi mahasatya

Silverius, Suke. (1991). Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Grasindo

Ischak, S. W. dan Warji, R. (1982). Program Remedial dalam Proses Belajar-Mengajar. Yogyakarta: Lyberti

Nurhadi, dkk. (2003). Pembelajaran kontekstual dan penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang

Hartono. (1992). Kamus Lengkap Edisi Mini. Semarang: Aneka Ilmu

Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional


Salinan lampiran permendikbud no. 67 tahun 2013 tentang kurikulum 2013



Contoh Artikel tentang Guru dalam Pembentukan Karakter siswa V di SD Negeri X. Bag. IV

M.       Pengembangan Instrument
Setelah penyusunan instrumen selesai, peneliti akan menguji cobakan instrumen ke sekolah yang dijadikan studi pendahuluan oleh peneliti. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan dalam penelitian.

N.        Teknik Pengumpulan Data
1.         Wawancara
Wawancara adalah cara pengumpulan data atau informasi secara langsung dari informan, yang diakukan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada informan secara langsung.
2.         Angket
Angket adalah teknik pengumpulan data melalui beberapa pertanyaan secara tidak langsung. Angket yang digunakan pada penelitian ini adalah angket terbuka. Angket terbuka yaitu angket dengan pertanyaan yang isinya dapat bebas diisi oleh responden. Angket ini diberikan kepada guru dan siswa sebagai respon dan informasi tambahan mengenai soal remedial dalam model pembelajaran kontekstual.
3.         Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati kegiatan yang diamati. Observasi yang dilakukan adalah observasi nonpartisipasif yaitu peneliti tidak terlibat dalam kegiatan uji coba, peneliti hanya mengamati kegiatan.
4.         Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan menganalisa dokumen – dokumen baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan. Studi dokumentasi dilakukan terhadap soal remedial yang sebelumnya digunakan guru.  Studi dokumentasi dilakukan pada tahap pendefinisian.
5.         Uji Coba soal remedial
Uji coba soal remedial dilakukan karena produk yang dihasilkan oleh peneliti adalah soal remedial. Untuk mengetahui keterpakaian soal remedial maka dilakukan proses uji coba terhadap soal remedial. Soal remedial akan digunakan oleh siswa kelas IV SD dan hasil pekerjaannya akan dianalisis. Berdasarkan data yang ditemukan maka peneliti dapat menentukan ketercapaian hasil  belajar siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau tidak.

O.       Analisis Data
Menurut Stainback (dalam Sugiyono 2012, hlm 243) menyatakan bahwa “belum ada panduan dalam penelitian kualitatif untuk menentukan berapa banyak data dan analisis yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan atau teori.” Hal ini disebabkan data yang diperoleh oleh peneliti dari berbagai sumber menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh, sehingga peneliti sendiri yang harus menentukan teknik analisis data yang digunakan.
Sebelum melakukan perancangan soal remedial, peneliti melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu. Data yang ditemukan dari studi pendahuluan dianalisis dan dijadikan acuan untuk melakukan perancangan terhadap draf 1 soal remedial. Dalam melakukan analisis data kualitatif peneliti menggunakan model Miles dan Huberman yaitu analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.”
1.        Data Reduction (Reduksi Data)
Pada proses pengambilan data di lapangan maka peneliti akan memperoleh data yang kompleks, rumit dan jumlahnya tidak sedikit. Maka dari itu perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Reduksi data dilakukan dengan cara memilih dan mengumpulkan data-data yang diperlukan dan menyampingkan data-data yang tidak diperlukan. Hal ini agar data penelitian menjadi lebih fokus dan terarah.
2.        Data Display (penyajian data)
Setelah melakukan reduksi data maka selanjutnya peneliti menyajikan data tersebut. Pada penelitian kualitatif penyajian data dapat berupa teks naratif, bagan, hubungan antara kategori flowchart dan sejenisnya. Namun yang paling sering digunakan oleh para peneliti adalah uraian teks yang bersifat naratif.
3.        Conclusion Drawing/ Verification
Langkah ketiga yang dilakukan adalah penarikan  kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif berupa temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Contoh Artikel tentang Guru dalam Pembentukan Karakter siswa V di SD Negeri X. Bag. III

G.       Kerangka Berfikir
Menurut Uman Sekaran (dalam Sugiyono, 2010, hlm.  91) kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Penelitian ini berdasarkan pada pokok pikiran mengenai pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual sebagai implementasi pembelajaran berkarakter pada subtema makananku sehat dan bergizi. Selama ini guru kurang menindaklanjuti siswa yang mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Walaupun ada, cara perbaikan yang dilakukan juga masih kurang sesuai. Hal tersebut berdasarkan study pendahuluan yang dilakukan dengan cara wawancara kepada guru di SD Negeri 2 Kelapasawit. Oleh karena itu, guru perlu mengetahui pembelajaran perbaikan dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual sebagai tindak lanjut dari penilaian hasil belajar siswa. Secara sistematis, kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
                                                                                   
H.        Lokasi dan Subjek Penelitian
a.         Lokasi Penelitian

Peneliti akan melakukan penelitian di SD Negeri 2 Kelapasawit. SD tersebut terletak di di Dusun. Kalapagada Rt.18/Rw.04, Desa. Kalapasawit, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis.

b.         Subjek Sumber Data Penelitian
Istilah populasi tidak digunakan pada penelitian kualitatif, tetapi menurut Spradley dinamakan “social situation” atau situasi sosial yang terdiri dari tiga elemen yaitu tempat (place), pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara  sinergis. Pada penelitian ini, peneliti mengamati secara mendalam aktivitas orang-orang yang ada pada tempat tertentu.
Pada penelitian kuantitatif sumber data disebut responden, sedangkan pada penelitian kualitatif sumber data disebut nara sumber, partisipan, dan informan. Penentuan sumber data pada penelitian kualitatif menggunakan teknik sampling.  Teknik sampling dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive. Menurut Sugiyono (2012, hlm. 124) Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Pada pelaksanaan penelitian pengambilan subjek sumber data dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pengambilan data melalui analisis masalah berupa wawancara kepada guru kelas IV di SD Negeri 2 Kelapasawit. Tahap selanjutnya yaitu tahap uji coba produk yang dilakukan pada semua siswa kelas IV di SD Negeri 2 Kelapasawit.

I.       Desain Penelitian
Peneliti akan menjelaskan prosedur yang dilakukan dalam membuat produk. Model yang digunakan untuk penelitian ini yaitu model 4-D, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.         Tahap Define (Pendefinisian), dalam tahapan ini terdapat 3 fokus kegiatan sebagai berikut.
 a.          Analisis Awal Akhir
Dalam tahapan ini dilakukan analisis masalah yang mendasari pengembangan pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual. Langkah yang ditempuh dalam analisis ini adalah dengan menganalisis masalah, kemudian melakukan analisis terhadap Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang sesuai dengan subtema, analisis indikator setiap mata pelajaran yang sesuai dengan subtema, analisis tujuan pembelajaran dan analisis soal evaluasi.
b.          Analisis Siswa
Analisis siswa merupakan menganalisis karakteristik siswa berdasarkan kebutuhan dan perkembangannya untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa sebagai acuan dalam pembelajaran remedial. Karakteristik ini meliputi perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor siswa.
c.          Analisis Tugas
Analisis tugas ditujukan untuk mengidentifikasi tahap-tahap penyelesaian tugas agar tercapainya indikator pembelajaran. Hasil dari pencapaian tugas ini dapat digunakan sebagai acuan penentuan siswa mana yang harus melaksanakan pembelajaran remedial.
2.    Tahap Design (Perancangan)
Dalam tahapan ini adalah perancangan pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual. Adapun dalam tahap ini terdiri dari kegiatan:
a.          Perencanaan tahapan – tahapan kegiatan yang akan dilakukan
Setelah diketahui apa penyebab siswa belum dapat mencapai tujuan pembelajaran, maka rencanakan kegiatan dan soal pembelajaran remedial yang sesuai dengan solusi dari masalah yang dihadapi siswa.
b.         Perancangan pengolahan hasil pembelajaran remedial
Setelah siswa mengikuti pembelajaran remedial maka langkah selanjutnya adalah mengolah hasil belajar siswa pada pembelajaran remedial.
3.         Tahap Pengembangan
Dalam tahap pengembangan ini terdiri dari pengembangan soal remedial dengan divalidasi oleh ahli revisi dan uji coba produk. “Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti” (Sugiyono, 2012, hlm. 363).  Adapun “reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan” (Sugiyono, 2012, hlm. 268). Suatu data dinyatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam obyek yang sama menghasilkan data yang sama.
Validasi draf 1 soal remedial yang divalidasi ahli yang dilakukan bersifat perkiraan atau judgement, berdasarkan analisis dan pertimbangan logika dari para ahli. Validasi yang dilakukan berupa meminta analisis kelayakan teori atau konsep yang digunakan terhadap draf 1 soal remedial yang dikembangkan dan meminta saran perbaikan atas kekurangan-kekurangan yang ada.
Draf 1 soal remedial yang telah divalidasi oleh ahli di analisis oleh peneliti hal – hal apa saja yang menjadi kekurangannya dan direvisi oleh peneliti. Setelah revisi dilakukan, maka peneliti menyusun kembali soal remedial sehingga siswa yang belum mencapai tujuan pembelajaran diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran melalui soal remedial tersebut. Draf 2 soal remedial diujicobakan ke siswa kelas IV SD Negeri 2 Kelapasawit. Selain itu peneliti juga memberikan kuesioner respon guru kepada guru yang mengajar dan kuesioner respon siswa kepada siswa yang belajar. Hal ini dilakukan peneliti untuk mengetahui respon dari guru dan siswa terhadap draf 2 soal remedial. Analisis kekurangan draf 2 soal remedial dilakukan berdasarkan observasi dan hasil isian draft 2 soal remedial siswa. Kekurangan-kekurangan yang ada di revisi dan terbentuk draf 3 soal remedial.
Setelah draf 3 soal remedial dibentuk maka dilakukan uji coba 2 kepada siswa kelas IV SD Negeri 2 Kelapasawit. Sama seperti halnya uji coba 1 peneliti melakukan melakukan observasi terhadap pengerjaan soal remedial dan menganalisis hasil isian draf 2 LKS yang diisi oleh siswa. Kemudian peneliti kembali memberikan kuesioner respon guru kepada guru yang mengajar dan kuesioner respon siswa kepada siswa yang belajar. Hal ini dilakukan peneliti untuk mengetahui respon dari guru dan siswa terhadap draf 3 soal remedial. Analisis kekurangan draf 3 soal remedial dilakukan berdasarkan observasi dan hasil isian draft 3 soal remedial. Kekurangan-kekurangan yang ada di revisi untuk terakhir kalinya. Setelah revisi akhir maka terbentuklah produk bahan ajar soal remedial dalam model pembelajaran kontekstual.
4.         Tahap penyebaran
Tahap penyebaran dilakukan secara terbatas. Penyebaran dilakukan dengan cara mengadakan kunjungan ke sekolah – sekolah yang berada dalam satu wilayah dengan SD Negeri 2 Kelapasawit.

J.       Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu research and development atau metode penelitian dan pengembangan. Menurut Sugiyono (2009, hlm. 407), “metode penelitian dan pengembangan (research and development) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut.” Penggunaan metode ini sesuai dengan namanya yaitu diawali dengan penelitian atau research yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan pengguna, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan atau development yang bertujuan untuk menghasilkan pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual.
Pada kegiatan research, terdapat kegiatan rancangan awal dalam tahap pendefinisian. Kegiatan rancangan awal bertujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Metode yang digunakan dalam pengumpulan dan analisis datanya adalah metode statistik deskriptif. Menurut Sugiyono (2012, hlm. 207) statisik deskriptif  adalah statistic yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Kemudian pada tahap pengembangan produk, metode yang dilakukan adalah metode kualitatif. Ketika melakukan pengolahan data, metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang hasilnya dideskripsikan. Proses pengembangan pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual ini mengacu pada model pengembangan pembelajaran Thiagarajan yang terdiri dari 4-D yakni meliputi tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (development), dan tahap pendiseminasian (disseminate).

K.           Definisi Operasional
Pembelajaran remedial adalah suatu kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk menindaklanjuti siswa yang belum mencapai tujuan pembelajaran dengan cara mendiagnosis penyebabnya kemudian mencari alternatif cara perbaikannya sehingga siswa tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan optimal sesuai kemampuannya.
Model pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang mendorong siswa untuk mampu mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari – hari dalam bermasyarakat.
Pembelajaran remedial dengan menggunakan model pembelajaran konekstual adalah pembelajaran remedial yang dilaksanakan berdasarkan model kontekstual agar siswa mampu menghubungkan materi yang belum dipahami dengan kegiatan sehari – hari sehingga materi tersebut dapat mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.
Pembelajaran dengan subtema makananku sehat dan bergizi merupakan salah satu subtema yang terdapat dalam tema makanan sehat dan bergizi, kurikulum 2013 kelas IV. Mata pelajaran yang ditematikan dalam subtema ini adalah Ilmu Pengetahuan Alam, PPKn, Bahasa Indonesia, SBdP, Ilmu Pengetahuan Sosial, PJOK dan matematika.

L.        Instrument Penelitian
Instrument penelitian adalah alat yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data sehingga hasil data lebih cermat, sistematis, dan lebih mudah diolah. Instrument yang digunakan oleh peneliti yaitu lembar kuesioner, lembar observasi, pedoman wawancara, check-list, dan soal remedial.
1.        Lembar Kuesioner
Lembar kuesioner berisikan pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab oleh responden secara tertulis.
2.        Lembar observasi
Lembar observasi berisikan hal – hal yang harus diamati dan dicatat oleh peneliti pada saat kegiatan observasi.
3.        Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisikan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan oleh peneliti dan diminta dijawab oleh responden.
4.        Check-list
Check-list berisikan daftar yang harus dicocokan antara suatu hal yang ada dilapangan dengan daftar yang telah ditentukan oleh peneliti.
5.        Soal remedial
Soal remedial adalah beberapa soal yang harus dikerjakan oleh siswa yang melaksanakan pembelajaran remedial. Penggunaan soal remedial sebagai instrument penelitian untuk mengetahui keterpakaian dari soal remedial yang telah dibuat oleh peneliti.

Contoh Artikel tentang Guru dalam Pembentukan Karakter siswa V di SD Negeri X. Bag. II


C.       Identifikasi Masalah
1.        Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, teridentifikasi beberapa masalah yakni:
a.          Peran guru dalam proses pembelajaran dirasakan belum optimal dalam membentuk karakter siswa.
b.         Inovasi Rusaknya generasi muda saat ini dengan berbagai hal yang tidak bermanfaat.

2.        Analisis Masalah
Permasalahan yang sering muncul di lapangan adalah peran guru dalam pembelajaran dirasakan kurang optimal karena dalam membentuk karakter siswa, untuk mendiagnosis penyebab siswa mengalami kesulitan belajar sehingga pembelajaran remedial yang dilaksanakan juga masih belum sesuai dengan kebutuhan siswa dalam mencapai kompetensi dasar yang belum dikuasai.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah pembelajaran remedial yang mampu membantu siswa dalam mencapai kompetensi dasar yang belum dikuasai dan dapat menerapkan konsep yang dipelajari dalam kehidupan sehari – hari.
3.        Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dibatasi dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a.          Bagaimana kemampuan guru dalam menanamkan nilai-nilai positif yang mencakup pada tanggung jawab, mandiri, dan jujur?
b.         Bagaimana kemampuan guru dalam mengembangkan nilai-nilai afektif  peserta didik yang mencakup sikap tekun, gigih, dan berani?
c.          Bagaimana kemampuan guru dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan teman sebayanya?
d.         Bagaimana kemampuan guru dalam membina pembentukan karakter peserta didik yang mencakup sikap mandiri, percaya diri, dan percaya diri?
e.          Bagaiman kemampuan guru dalam memberi keteladanan melalui sikap  kepada peserta didik?

D.        Tujuan Penelitian
Bertitiktolak dari rumusan masalah yang telah dirumuskan, adapun tujuan pengembangan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui kemampuan guru dalam menanamkan nilai-nilai positif yang mencakup pada tanggung jawab, mandiri, dan jujur
2.    Untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengembangkan nilai-nilai afektif  peserta didik yang mencakup sikap tekun, gigih, dan berani.
3.     Untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan teman sebayanya.
4.    Untuk mengetahui kemampuan guru dalam membina pembentukan karakter peserta didik yang mencakup sikap mandiri, percaya diri, dan percaya diri.
5.    Untuk mengetahui kemampuan guru dalam memberi keteladanan melalui sikap  kepada peserta didik.

E.    Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa manfaat yang diharapkan peneliti setelah penelitian dilaksanakan.
1.         Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana peran guru dalam melakukan pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual di kelas V sekolah dasar.
2.         Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menciptakan soal untuk pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual di kelas V sekolah dasar.
Hasil penelitian ini dapat menjadi sebuah contoh soal untuk pembelajaran remedial dengan menggunakan model kontekstual di kelas V sekolah dasar.

F.       Landasan Teori
1.         Pendidikan secara Umum
Pembelajaran yaitu proses interaksi antara pendidik dan peserta didik yang terencana secara sistematis sehingga terjadi perubahan perilaku. Sebagaimana dinyatakan pada Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 bahwa “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam proses pembelajaran, guru telah menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa setelah melaksanakan pembelajaran dengan metode, media, dan lingkungan belajar yang telah disesuaikan dengan keadaan siswa. Namun, pada prinsipnya dalam pelaksanaan proses pembelajaran akan selalu ada siswa yang belum dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Siswa tersebut adalah siswa mengatasi kesulitan – kesulitan dalam belajar yang mereka alami.
Menurut Mukhtar dan Rusmini (2007, hlm. 2) secara umum, dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar seorang siswa disekolah dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Guru harus dapat mengidentifikasi faktor – faktor yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar pada diri siswa, karena jika kesulitan belajar tersebut dibiarkan maka siswa tidak akan mencapai tujuan pembelajaran dengan baik.
Para siswa yang berada dalam satu kelas memiliki kemampuan dan kecerdasan yang beraneka ragam. Oleh karena itu, perbedaan penguasaan belajar siswa pun berbeda. Untuk mengatasi hal tersebut maka harus dilaksanakan pembelajaran remedial. Sebagaimana diungkapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian, setiap pendidik hendaknya memperhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan awal, kecerdasan, kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar), maka program pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak.
Remedial berasal dari bahasa Inggris yaitu remedy, dalam kamus bahasa Inggris, remedy artinya obat, memperbaiki, atau menolong, jadi remedial adalah suatu hal yang berkaitan dengan penyembuhan atau perbaikan. Dengan demikian pembelajaran perbaikan adalah proses pembelajaran yang bersifat memperbaiki pembelajaran sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Kegiatan perbaikan yang dilakukan dalam pembelajaran remedial adalah kegiatan untuk mengidentifikasi jenis – jenis dan sifat – sifat kesulitan belajar, faktor – faktor penyebabnya, dan upaya alternatif – alternatif pemecahan masalah belajar baik dengan cara penyembuhan maupun pencegahan berdasarkan data dan informasi yang lengkap dan objektif.
Adapun perbandingan antara pembelajaran biasa dengan pembelajaran remedial menurut Ahmadi dan Supriyono (2004, hlm. 153-154) adalah sebagai berikut:
a.          Kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dan semua siswa ikut berpartisipasi. Pengajaran perbaikan diadakan setelah diketahui kesulitan belajar kemudian diadakan pelayanan khusus.
b.         Tujuan pengajaran biasa dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama untuk semua siswa. Pengajaran perbaikan tujuannya disesuaikan dengan kesulitan belajar siswa walaupun tujuan akhirnya sama.
c.          Metode dalam pengajaran biasa sama buat semua siswa, sedangkan metode dalam pengajaran perbaikan berdiferensial (sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan)
d.         Pengajaran biasa dilakukan oleh guru, sedangkan pengajaran perbaikan oleh team (kerja sama)
e.          Alat pengajaran perbaikan lebih bervariasi (penggunaan tes diagnostik, sosiometri, alat – alat laboratorium, dan lain – lain)
f.          Pengajaran perbaikan lebih diferensial dengan pendekatan individual
g.         Pengajaran perbaikan evaluasinya disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
Secara umum tujuan dari pembelajaran remedial yaitu membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Secara terperinci tujuan pembelajaran remedial menurut Ahmadi dan Supriyono (2004, hlm. 154) adalah sebagai berikut:
a.          Agar siswa dapat memahami dirinya, khususnya prestasi belajar. Selain itu, siswa juga dapat mengetahui kelemahannya dalam mempelajari suatu pelajaran dan juga kekuatannya.
b.         Agar siswa dapat memperbaiki atau mengubah cara belajar kea rah yang lebih baik.
c.          Agar siswa dapat memilih materi dan fisilitas belajar secara tepat.
d.         Agar siswa dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan yang dapat mendorong tercapainya hasil yang lebih baik.
e.          Agar siswa dapat melaksanakan tugas – tugas belajar yang diberikan kepadanya
Sedangkan secara keseluruhan proses pembelajaran, menurut Mukhtar dan Rusmini (2007, hlm 24-25) pembelajaran remedial berfungsi sebagai:
a.          Fungsi Korektif
Fungsi korektif artinya melalui pembelajaran remedial dapat dilakukan pembenaran atau perbaikan terhadap hal – hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, antara lain mencakup perumusan tujuan, penggunaan metode, cara – cara belajar, materi dan alat pelajaran, dan evaluasi. Dengan perbaikan terhadap hal – hal tersebut, maka prestasi belajar siswa dan faktor – faktor yang mempengaruhinya dapat diperbaiki.
b.         Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman artinya melalui pembelajaran remedial memungkinkan guru, siswa, atau pihak – pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehensif mengenai pribadi siswa.
c.          Fungsi penyesuaian
Fungsi penyesuaian artinya bahwa melalui pembelajaran remedial siswa dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses belajarnya). Dengan demikian siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.
d.         Fungsi pengayaan
Fungsi pengayaan artinya melalui pembelajaran remedial akan memeperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan pada proses pembelajaran akan dapat diperoleh melalui pembelajaran remedial.
e.          Fungsi akselerasi
Fungsi akselerasi artinya melalui pembelajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien.
f.          Fungsi terapeutik
Fungsi terapeutik artinya melalui pembelajaran remedial, kondisi – kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukan adanya penyimpangan dapat disembuhkan.
Pembelajaran remedial didahului dengan pengidentifikasian masalah yang dialami oleh siswa yang bersangkutan. Secara umum, menurut Silverius (1991, hlm. 160) ada empat langkah yang utama dalam mendiagnosa dan memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, yaitu:
a.          Menentukan siswa mana yang mempunyai kesulitan belajar. Teknik yang dapat digunakan yaitu dengan cara observasi terhadap proses belajar siswa, meneliti nilai ulangan siswa, kemudian membandingkan nilai rata – rata kelasnya, dan memeriksa buku catatan pribadi siswa
b.         Menentukan bentuk khusus dari kesulitan belajar itu
c.          Menentukan faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar itu
d.         Menetapkan prosedur remedial yang sesuai
Menurut Sukmadinata dan Thomas dalam Mukhtar dan Rusmini (2007, hlm. 61) tingkat kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:
a.          Ringan; untuk kesulitan belajar yang ringan ini cara pemecahannya tidak terlalu sulit. Cara pemecahannya dapat dilakukan cukup dengan menerangkan kembali pokok bahasan atau menyuruh mereka untuk mempelajari kembali catatan tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari dengan suasana yang lebih serius.
b.         Sedang; untuk tingkat kesulitan yang sedang ini, guru harus menanganinya secara khusus, karena siswa benar – benar mengalami kesulitan dalam mencerna keterangan yang disampaikan. Dengan demikian, guru hendaknya bekerja sama dengan guru bimbingan dan konseling atau siapa saja yang dapat menangani masalah tersebut.
c.          Berat; untuk tingkat kesulitan belajar yang berat ini, mungkin karena siswa tersebut mengalami kecelakaan sehingga salah satu oragn tubuhnya rusak, akibatnya ia akan sulit menangkap pelajaran atau memang kemampuannya yang sangat minim. Walaupun demikian, guru harus berusaha membantunya.
Program pengajaran perbaikan yang dapat dilaksanakan menurut Ischak dan Warji (1982, hlm. 42-44) adalah sebagai berikut:
a.          Penjelasan kembali oleh guru (re-teaching) yaitu kegiatan perbaikan yang dilakukan oleh guru dengan jalan mengajarkan kembali bahan pelajaran yang sama kepada para siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan cara penyajian yang berbeda dengan kegiatan pembelajaran dalam situasi kelompok yang dilakukan, serta memberi motivasi kepada siswa dalam kegiatan belajar.
b.         Pengguanaan alat peraga (audio visual aids), artinya dalam menerangkan kembali materi dengan menggunakan alat peraga, hal ini akan membantu terutama apabila pada saat menerangkan materi pertama kali tidak menggunakan alat peraga.
c.          Studi kelompok (study group), juga merupakan usaha perbaikan kesulitan belajar, asalkan diantara anggota kelompok itu ada siswa yang benar – benar menguasai bahan pelajaran tersebut dan dapat menerangkannya dengan baik kepada teman – temannya. Guru juga harus tetap hadir dalam diskusi kelompok tersebut.
d.         Tutoring, siswa yang telah mencapai tujuan pembelajaran diminta untuk membantu temannya yang ditunjuk secara individual.
e.          Tugas – tugas perseorangan, dengan menggunakan sumber yang relevan siswa dapat lebih memahami materi yang sukar diolah dan dimengerti melalui sumber yang diwajibkan di sekolah. Untuk itu, guru bisa menginstruksikan siswa untuk mempelajari bahan yang sama dari buku – buku sumber lain.
f.          Bimbingan lain, artinya proses perbaikan itu dapat dilakukan oleh wali kelas, guru, petugas bimbingan dan konseling, tutor, atau oran tua siswa.
Setelah guru mengetahui masalah kesulitan siswa dan menentukan program yang sesuai, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan pembelajaran remedial. Langkah – langkah pembuatan program remedial menurut Mukhtar dan Rusmini (2007, hlm. 87-88) adalah sebagai berikut:
a.          Menentukan tujuan program pembelajaran remedial
b.         Menentukan program pembelajaran remedial
c.          Menentukan strategi pelaksanaan program pembelajaran remedial
d.         Menentukan waktu yang akan digunakan untuk melaksanakan program pembelajaran remedial yaitu menentukan berapa kali program remedial ini akan dilaksanakn dan berapa lama program remedial yang direncanakan pada setiap kali pertemuan.
e.          Menentukan tempat yang akan digunakan untuk melaksanakan program remedial.
f.          Menentukan media atau alat peraga yang akan mempermudah penyampaian program pembelajaran remedial.
g.         Melakukan evaluasi pembelajaran remedial pada akhir kegiatan pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran remedial ini telah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Jika program remedial ini belum berhasil maka dilakukan kembali siklus pembelajaran remedial secara berkesinambungan dan kegiatan ini terus berulang sampai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.
2.         Model pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan materi yang dipelajari ke dalam kehidupan sehari – hari. Sebagaimana menurut pendapat Nurhadi (2003, hlm. 4-5) pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep dimana guru menghadirkan situasi nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada authentic assessment yang diperoleh dari berbagai kegiatan.
Model pembelajaran kontekstual perlu diterapkan karena mengingat bahwa selama ini banyak orang yang berpendapat bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta – fakta yang harus dihapalkan. Selain itu, fungsi dan peranan guru masih dominan sehingga siswa menjadi pasif dan kurang kreatif. Hal itu harus diperbaiki karena kurikulum 2013 menuntut siswa aktif, kreatif dan mampu mengaitkan materi dengan kegiatan sehari – hari. Salah satu cara untuk memperbaiki hal tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa komponen yang mendasari proses implementasinya dalam pembelajaran. Adapun komponen tersebut menurut Johnson, dalam Nurhadi (2003, hlm. 13) adalah sebagai berikut:
a.          Melakukan hubungan yang bermakna. Siswa dapat mengatur dirinya sendiri dalam belajar dan mengembangkan minatnya secara individual maupun kelompok dan siswa dapat belajar sambil berbuat.
b.         Melakukan kegiatan – kegiatan yang signifikan dengan cara siswa membuat hubungan antar sekolah dengan berbagai konteks dalam kehidupan dunia nyata sebagai anggota masyarakat
c.          Belajar yang diatur sendiri.
d.         Bekerja sama. Siswa dapat bekerja sama dengan secara efektif dalam kelompok. Sedangkan guru dapat membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi dalam kelompoknya.
e.          Berpikir kritis dan kreatif. Siswa dapat menggunakan tingkat berfikir tinggi seperti menganalisis, sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti – bukti.
f.           Mengasuh atau memelihara pribadi siswa.
g.         Mencapai standar yang tinggi. Siswa dapat mencapai standar yang tinggi dengan cara mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.
h.         Menggunakan pengetahuan akademisnya dalam konteks dunia nyata untuk satu tujuan yang bermakna.